Pasien Virus Corona yang Dirawat dengan Obat Malaria

Pasien yang diberikan obat malaria hidroksiklorokuin punya tingkat kematian yang lebih tinggi.

Pasien Virus Corona yang Dirawat dengan Obat Malaria
Ilustrasi obat. Foto: Unsplash
Obat virus corona belum ditemukan hingga saat ini. Sejumlah negara menggunakan beberapa alternatif dalam menyembuhkan pasien virus corona, salah satunya obat malaria hidroksiklorokuin (hydroxychloroquine).
Karena tidak sedikit pihak yang meragukan keampuhan hidroksiklorokuin dalam mengobati pasien COVID-19, sekelompok peneliti di AS menganalisis retrospektif data ratusan pasien virus corona yang diberi obat malaria itu.
Hasil penelitiannya menunjukkan, penggunaan hidroksiklorokuin untuk mengobati pasien virus corona tidak memiliki manfaat. Para peneliti yang terlibat dalam studi itu justru menemukan, ada lebih banyak kematian di antara pasien COVID-19 yang diberi hidroksiklorokuin ketimbang yang dirawat secara standar.
Tim ilmuwan yang terdiri dari peneliti di University of South Carolina, Dorn Research Institute, serta University of Virginia menjelaskan, mereka menganalisis data 368 pasien laki-laki virus corona SARS-CoV-2. Para pasien ini dirawat di seluruh pusat kesehatan Administrasi Kesehatan Veteran AS per 11 April 2020.
Pasien Virus Corona yang Dirawat dengan Obat Malaria
Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock
Dari 368 pasien tersebut, peneliti membagi mereka jadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi 97 orang yang hanya diberikan obat hidroksiklorokuin selama dirawat. Grup kedua berjumlah 113 orang yang dirawat dengan hidroksiklorokuin dan azitromisin (azithromycin). Adapun kelompok terakhir berisi 158 pasien yang tidak diberikan hidroksiklorokuin.
Peneliti menemukan, bahwa pasien yang diberikan obat malaria hidroksiklorokuin justru punya tingkat kematian yang lebih tinggi. Dalam catatan mereka, tingkat kematian pasien yang hanya diberikan hidroksiklorokuin mencapai 27,8 persen, dan 22,1 persen di kelompok hidroksiklorokuin dan azitromisin. Adapun pasien yang tidak diberikan hidroksiklorokuin ‘hanya’ punya tingkat kematian 11,4 persen.
Selain itu, periset juga mencatat tingkat kebutuhan ventilasi di kelompok hidroksiklorokuin mencapai 13,3 persen. Di kelompok hidroksiklorokuin dan azitromisin hanya 6,9 persen, sedangkan kelompok terakhir mencapai 14,1 persen.
“Dalam penelitian ini, kami tidak menemukan bukti bahwa penggunaan hidroksiklorokuin, baik dengan atau tanpa azitromisin, mengurangi risiko ventilasi mekanik pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19,” kata tim peneliti dalam laporannya.
“Hubungan peningkatan kematian juga diidentifikasi pada pasien yang hanya diobati dengan hidroksiklorokuin. Temuan ini menyoroti pentingnya menunggu hasil studi prospektif, acak, terkontrol yang berkelanjutan sebelum adopsi luas dari obat ini.”
Meski demikian, peneliti menyebut bahwa laporan mereka bisa jadi punya kekurangan. Sebagai contoh, objek penelitian mereka hanya terdiri dari pasien laki-laki dengan rata-rata umur 65 tahun. Hal ini membuat dampak hidroksiklorokuin bagi pasien perempuan dan anak-anak tidak diketahui.
Jurnal Referensi:
  1. https://www.medrxiv.org/archive

Indeks Pos